Proses Pembuatan Ogoh-ogoh

Pada tahun 2017 ini St Rama Sita memiliki konsep dan teknik pembuatan ogoh-ogoh yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini, konsep yang diangkat tentang sejarah Balingkang dan teknik pembuatannya menggunakan anyaman rotan. Teknik  ini lebih mudah dan lebih rapi daripada menggunakan bambu (sebitan bambu). Ukuran ogoh-ogoh pada tahun 2017 juga cukup besar. Secara umum proses pembuatan ogoh-ogoh ini mulai dari mencari ide, membuat kerangka dengan besi, membuat anatomi tubuh menggunakan anyaman rotan, melapisi anyaman dengan koran, melapisi dengan plamir  halus, pengecatan, dan pemasarangan asesoris. Pada gambar di bawah ini adalah proses pengerjaan pada tahap melapisi dengan plamir. Semoga Jaya Selalu

Iklan

“Mengambel” Media Membangun Karakter

10308090_335489776607315_2317918709413927050_nBali tidak lepas dari kegiatan beragama, beradat, dan berkesenian. Ketiga aktivitas ini bercampur harmonis untuk menciptakan keindahan dan kedamaian. Kegiatan bergama sampai saat ini selalu diikuti oleh aktivitas berkesenian. Seni menjadikan kegiatan beragama menjadi indah dan menyejukan. Salah satu bentuk kesenian itu tabuh gambelan (alat permainan tradisional Bali). Gambelan telah diwarisi masyarakat bali secara turun temurun. Minat masyarakat menekuni seni karawitan ini pada abad 21 menunjukkan suatu peningkatan yang ditandai dengan maraknya perkembangan tabuh-tabuh kreasi dan kolaborasi. Kesenian gambelan tidak hanya digunakan untuk upacara agama (Dewa Yadnya) juga digunakan untuk upacara adat lainya seperti manusia yadnya, rsi yadnya, pitra yadnya, dan bhuta yadnya. Semuanya itu, diiringi oleh seni gambelan atau tetabuhan. Begitu pentingnya seni itu maka sebagai generasi muda Bali wajib untuk melestarikannya, tanpa dicekoki untuk mengganti itu semua dengan kaset atau CD gambelan.

            Salah satu upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemuda St. Rama Sita, terhadap kesenian tersebut adalah melatih anak-anak di desa untuk belajar megambel. Belajar mengambel yang ditanamkan sejak dini memiki dampak yang positif dalam membentuk karakter anak. Karakter itu dibentuk dari proses latihan hingga menyuguhkan hasil latihan. Kegiatan megambel tidak bisa dilakukan sendiri. Megambel adalah kerja sama tim dan setiap anggotanya memiliki peran yang berbeda-beda. Apabila sikap egois menonjol pada salah satu anggota tim, maka dapat dipastikan irama yang dihasilkan dari gambelan itu akan tidak harmonis. Sikap-sikap ego dalam tim dapat dinetralkan melalui pengetahuan bahwa semua memiliki peran masing-masing dan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Sikap kerja sama ini nantinya juga akan berkembang karena ada sifat saling ketergantungan di antara alat musik. Misalnya, tanpa suara gong, maka tabuh itu akan terasa hambar. Jadi setiap alat musik memiliki fungsi sendiri yang diperlukan oleh alat musik yang lain dan semuanya harus bekerja sama. Nilai kedua yang bisa dipetik adalah setiap alat musik memiliki bentuk dan suara yang unik. Maknanya adalah untuk menjadi orang tidak mesti menjadi orang lain. Tapi, jadilah diri sendiri yang unik dan memiliki keahlian yang berbeda sehingga dapat berkontribusi untuk yang lain. Nilai terakhir atau ketiga yaitu asah, asih, asuh, dalam memainkan alat musik/swadarma masing-masing mampu memberikan keindahan dan kedamaian bagi orang lain yang mendengar dan anggota tim itu sendiri.

ST. Rama Sita di Parade Budaya Gianyar

Seni merupakan bagian dari kehidupan. Tanpa seni, barangkali kehidupan ini tidak akan menarik. Seni sebagai perwujudan kreativitas tidak cukup hanya dinikmati sendiri. Seni perlu wadah agar bisa dinikmati oleh banyak orang. Terkait dengan hal berk

esenian, ST Rama Sita juga berperan aktif di dalamnya. Berkesenian dimaksud dilakukan dalam rangka menyambut Hut kota Gianyar yang ke-242. Keterlibatan ST Rama Sita pada Khsusnya dan Desa Sanding pada umumnya karena sebagai wakil kecamatan tampaksiring di pementasan seni budaya di open Stage Bale Budaya Gianyar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap desa di kecamatan tampaksiring mendapat kesempatan mewakili kecamatan untuk beradu di kabupaten. Di tahun 2013, Desa Sanding mendapat kesempatan tampil mewakili kecamatan tampaksiring.
Tema yang diangkat oleh desa Sanding dalam pementasan parade budaya adalah calonarang. Adapun sekaa truna yang ikut di dalamnya yaitu ST Rama Sita, ST Eka Dharma Laksana, dan ST Wira Dharma. Bertepatan dengan puncak acara, Semua kecamatan menampilkan kebolehannya masing-masing. Dan setiap kecamatan memiliki ciri khasnya masing-masing.

164679_441826359235991_1961215910_n

Penampilan DS. Sanding di Parade Gianyar

11901_441826945902599_122115373_n

Salah Satu Ogoh-ogoh di Parade Gianyar

Lomba Mancing di Sanding

lomba mancingMancing merupakan kegiatan yang sudah dilakoni masyarakat sejak lama. Tujuan utama mancing pada zaman dulu adalah untuk memperoleh ikan atau sejenisnya guna memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Tujuan utama mancing kemudian berkembang menjadi sebuah rekreasi, hingga menjadi sebuah perlombaan. Mancing sebagai sebuah perlombaan memiliki dua tujuan yaitu untuk rekreasi dan untuk memperoleh juara atau hadiah. Lomba mancing mulai tren sejak tahun 2012, barang kali sebelumnya sudah ada, sehingga tidak heran, tiap desa secara bergantian mengadakan lomba mancing.  Tujuan lomba tiap desa juga bervariasi, sehingga sering terjadi kolaborasi salingmembantu antar warga desa satu dengan desa lain dalam hal penjualan kupon mancing.

Ada hal menarik dari lomba mancing yaitu para anggota subak merasa terbantu karena aliran sungai yang selama ini digunakan untuk mengairi sawah menjadi bersih dan aliran airnya lancar. Barang kali, perlu dicari arti sesungguhnya dari lomba macing, agar hal ini tidak disalahpahami. Artinya, baru ada lomba baru membersihkan sungai sehingga menjadi sebuah pola pikir kepentingan sesaat dan setelah lomba mancing sungai kembali diwarnai sampah-sampah plastik. Lomba mancing merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan, akan tetapi juga perlu dipikirkan ide-ide lain untuk melestarikan lingkungan misalnya, lomba sungai terbesih antar desa/subak, lomba menanam padi, lomba mancing lindung, dsb. Semua itu bertujuan untuk lebih meningkatkan rasa cinta kita terhadap lingkungan.

Berkaitan dengan lomba mancing di desa Sanding, tepatnya oleh banjar sanding bitra juga turut meramaikan tren lomba mancing tahun 2013. Lomba kali ini  dipanitiai oleh krama banjar dan pemuda rama sita. Tujuan utama lomba mancing ini adalah mengadakan penggalian dana, tujuan pengiring adalah terjaganya kebersihan sungai, meningkatkan raca cinta pada lingkungan, dan memperlancar aliran air ke masing-masing subak maupun sawah. Lomba yang diselenggarakan berjalan dengan lancar dan aman. Cintai lingkungan, kita mencapai kebahagiaan.

Ogoh-ogoh Pandung Nebek Klika

Penyambuatan hari raya nyepi identik dengan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh merupakan ungkapan kreativitas anak muda sebagai simbol sifat bhuta kala. Seiring perkembangan seni dan masalah di masyarakat, wujud ogoh-ogoh juga menyesuaikan. Mulai dari hal yang berbau politik, penyakit masyarakat, dan berbau lelucon. Barang kali hal ini juga bisa atau dianggap lebih tepat mewakiliki sifat butha kala. Misalnya, ada sekaa truna membuat ogoh-ogoh orang metajen (Judi). Barang kali sifat judi itu adalah sifat bhuta kala. Jadi, berkat kekrititasan masyarakat, objek ogoh-ogoh menjadi lebih kontekstual dengan kehidupan masyarakatnya.

Meramaikan penyambutan hari raya Nyepi tahun 2013, St. Rama Sita juga turut membuat ogoh-ogoh yang bertema Pandung nebek klika (Rangda). Filosifi dari tema ogoh-ogoh tersebut adalah kita sebagai manusia selalu mencari kebenaran sejati, dengan cara menghindari atau menetralisir sifat-sifat buruk yang meranggsuki pikiran dan mengimbangi perbuatan buruk dengan perbuatan baik.

Tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ogoh-ogoh yang dibuat oleh st. rama sita juga diparedekan di catus pata atau perempatan poh tegeh desa sanding. Parade ogoh-ogoh desa sanding, sudah berjalan tiga tahun sejak tahun 2011. Kegiatan ini sangat positif untuk mempererat rasa kekeluargaan antar banjar. Kualitas parade bukan semata pamer kobolehan dari masing-masing banjar, akan tetapi yang terpenting adalah mampu menunjukan kualitas pola pikir masyarakat memaknai dan menerapkan konsep pengerupukan dan nyepi pada esok harinya. Semoga kualitas parade tahun-tahun semakin meningkat mulai dari cara memaknai hari raya dan kualitas apa yang diparadekan.

Berikut ini adalah penampilan ogoh-ogoh St rama sita, berserta banjar lainnya yang tidak mau ketinggalan diantaranya. ogoh-ogoh banjar sanding serongga, sanding abianbase, sanding gianyar, dan sanding karanganyar, sanding padang sigi, dan sanding mancawarna.

pandung

ogoh-ogoh pandung

rare anggonrandeng dirahcelulukngelekas

Filosofi Gending Made Cenik

       Zaman telah bergeser dari tradisional menuju modern. Dulu waktu kita anak-anak kira-kira sebelum era tahun 1990-an lagu-lagu tradisional sangat kental terdengar di telinga kita yang diajarkan secara tidak langsung oleh para penglingsir kita. Lagu-lagu itu apabila kita dengar sepintas memang enak didengar dan asik dinyanyikan. Perkembangan zaman yang begitu pesat lagu-lagu tradisional Bali mulai tergusur dengan munculnya lagu-lagu baru yang bernuansa percintaan, perselingkungan, kekerasan, seks, dan lain-lain yang dengan mudah dinikmati oleh anak-anak maupun adik-adik kita.  Ini merupakan salah satu akibat dari mudahnya askes teknologi dan media informasi di tangan anak-anak dan kurangnya kontrol serta seleksi jenis informasi. Adanya teknologi seperti HP, jejaring sosial, dan internet yang tidak tepat guna dapat mencemari dan cenderung merusak pola pikir generasi muda kita pada masa mendatang.

        Adanya permasalahan tersebut, tentu kita merasa miris. Kita tidak boleh meninggalkan begitu saja tradisi dan budaya Bali yang telah diwariskan seperti gending tradisional Bali. Apabila kita cermati secara mendalam lagu tradisional Bali sarat akan makna filosofis. Contoh: Lagu Made Cenik. Berikut ini adalah lagu Made Cenik yang banyak mengandung petuah-petuah dan nilai-nilai. Pembaca budiman coba nyanyikan lagu di bawah ini dan resapi perkata dari lagu berikut.

———————————————————————————————————————–

Made Cenik lilig motor dibi sanja, Lilig motor dibi sanja

Motor Badung ke Gianyar, motor Badung ke Gianyar

Gedebege muat batu, Batu China

Bais lantang cunguh barak, Bais lantang cunguh barak

Mangumbar umbar I Codet, Mangumbar umbar I Codet.

I Codet matulupan

Jangkak jongkok, Manyaru menyongcong jangkrik, Manyaru menyongcong Jangkrik

Jangkrik kawi nilotama, Jangkrik kawi nilotama

Nilotama tunjung biru tunjung biru

Tunjung biru, margi iratu mesiram, margi iratu mesiram

Masiram saling enggokin, masiram saling enggokin

Tepuk api dong ceburan

———————————————————————————————————————–

Arti perkalimat dari lagu Made Cenik di atas.

Made Cenik lilig motor dibi sanja, Lilig motor dibi sanja

Artinya: kita sebagai orang Bali yang di hidup pada zaman sekarang jangan seperti Made Cenik. Cenik artinya kecil. Apabila kita selalu menganggap diri kita kecil (tidak mampu, tidak berdaya, tidak mau membangun diri, tidak produktif, dan tidak berpikir positif) maka orang yang menjadi Made Cenik akan terlindas oleh perkembangan zaman (lilig motor).

Lilig motor dibi sanja artinya Made Cenik kapan terlindas oleh perkembangan zaman? Ia sudah terlindas zaman oleh-oleh hari-hari kemarin, karena ia hanya bisa diam saja, menjadi penonton dan tidak action atau bertindak.

Motor Badung ke Gianyar, motor Badung ke Gianyar

Artinya:  perkembangan arus globalisasi dibuktikan dengan terjadi kemajuan, salah satunya di bidang pariwisata. Kita sebagai orang Bali dituntut pintar menyikapi perkembangan tersebut dengan cara membekali diri dengan berbagai kompetensi seperti kemampuan bergaul maupun mampu berbahasa asing. Motor Badung ke Gianyar merupakan fakta yang kita temukan pada zaman sekarang. Mobil-mobil pariwisata banyak datangnya dari arah Badung menuju Gianyar sebagai daerah tujuan wisata. Fakta menunjukkan bahwa di Gianyar terdapat berbagai objek wisata yang menarik wisatawan mancanegara untuk datang. Di Gianyar ada Bali Safari, Bali Soo, Bali Bird Park, Bali Elephant Park, Pasar Seni Sukawati, ubud, Tirta Empul, Istana Kepresidenan RI dan masih banyak lagi lainnya.

Gedebege muat batu, Batu China

Artinya:  gedebeg adalah gerobak. Gerobak dalam hal ini adalah pulau dewata yang kita cintai yang memuat batu. Batu tersebut adalah batu Cina. Batu Cina adalah batu mulia yang didambakan oleh setiap orang. Bali memiliki potensi yang membuat orang luar/asing ingin meraup keuntungan dari potensi tersebut.

Bais lantang cunguh barak, Bais lantang cunguh barak

Artinya:  bais lantang cunguh barak adalah orang-orang asing yang mulai dan telah menguasai potensi yang kita miliki. Hal ini dibuktikan, potensi-potensi Bali banyak dikuasai oleh investor luar daerah dan investor asing.

Mangumbar umbar I Codet,  Mangumbar umbar I Codet

Artinya: masih ada orang Bali yang pekerjaannya luntang lantung, tidak jelas, sebagai akibat dari tidak menyadari diri sendiri, tidak mau mengembangkan segala potensi diri, dan tidak produktif dalam kehidupanya. Orang ini kalau dalam kehidupan sekarang lebih suka gruang grueng di jalan, kumpul-kumpul tidak jelas tujuannya, dan mabuk-mabukan yang mengarahkan dirinya menuju masa depan suram.

I Codet matulupan

Artinya:  akibat dikuasainya potensi-potensi Bali dari pihak luar, kita hanya bisa sebagai pekerja suruhan yang bekerja pada perusahaan yang mereka dirikan. Lebih parahnya lagi masih ada warga  yang menjalani kehidupan seperti zaman dahulu kala yaitu berburu kehutan-kehutan atau mebedilan isitilah Balinya. Ini sebagai bentuk ketidakmampuan untuk bersaing di zaman sekarang dan tidak eling dengan diri sendiri.

Jangkak jongkok, Manyaru menyongcong jangkrik,  Manyaru menyongcong Jangkrik

Artinya: dalam berburu ada aktivitas jongkok. Jangkak jongkok yang artinya berusaha keras mencari jangkrik, namun itu hanya kedok belaka, seolah-olah dia bekerja keras namun itu tidak didasarkan atas keinginan tulus. Ini dilakukan supaya orang lain melihatnya bekerja keras, padahal senyatanya tidak begitu.

 Jangkrik kawi nilotama, Jangkrik kawi nilotama

Artinya:  jangkrik kawi nilotama adalah suatu wanita cantik. I Codet terlihat mencari jangkrik padahal dia menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin didapat dengan cara mudah. Dia menghayalkan ingin punya mobil, punya rumah bagus, punya istri cantik, dan arta yang berlimpah. Pokoknya hidupnya penuh hayalan saja tanpa action nyata.

Nilotama tunjung biru, tunjung biru

artinya:  nilotama menjadi incaran setiap orang. Orang yang lewat ingin memetiknya.

Tunjung biru, margi iratu mesiram, margi iratu mesiram

Artinya:  untuk mencapai tunjung biru ada jalannya, yaitu dengan cara membersihkan diri baik itu pikiran, jiwa, dan raga. Kita harus sadar akan kekurangan dan kelemahan diri kita. Ajak saudara-saudara kita untuk pergi mesiram membersihkan dirinya masing-masing.

Masiram saling enggokin, masiram saling enggokin

Artinya:  ketika kita mesiram (membersihkan diri atau menyadarkan diri) tidak lupa kita saling mengingatkan satu sama lain. Saudara-saudara kita yang  kurang mampu membersihkan diri, kita ingatkan, kita bantu agar dia tidak jatuh lembah penderitaan.

Tepuk api dong ceburan

Artinya: apabila kita sudah bersih tentu tidak bisa terlepas dari masalah. Ketika kita berhadapan dengan masalah jangan berlarut-larut dalam masalah tersebut. Bila kita larut dalam masalah tersebut kita akan frustrasi, stress, rendah diri, merasa diri bersalah, dsb. Kita harus mampu memecahkan masalah tersebut, sehingga kita lulus dari ujian kehidupan ini guna mencapai kebahagiaan lahir dan batih. Moksartham Jagaditha Ya Ca Iti Dharma.

Demikian kira-kira filosofi lagu tradisional Bali  Made Cenik. Semoga hal-hal sederhana ini yang merupakan kearifan lokan Bali dapat menuntun kita menjalani kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

oleh: ST. Rama Sita (2012)

PAGELARAN OGOH-OGOH 2012 DI SANDING

Penyambutan hari raya Nyepi identik dengan arakan ogoh-ogoh. Namun selama ini yang sering terjadi adalah benturan antar banjar. Masalah sepele sering melatarbelakanginya seperti, saling ejek antar pemuda, gesekan ogoh-ogoh dan lain sebagainya yang semestinya bisa diredam dengan kepada dingin.

Untuk mengatisipasi hal diatas, Desa sanding menyelenggarakan atraksi ogoh-ogoh dari masing sekaa teruna yang ada di lingkungan Desa Sanding. Masing-masing ogoh-ogoh dipentaskan secara bergiliran di catus pata Desa Sanding. Adapun jumlah ogoh-ogoh yang dipentaskan adalah sebanyak 7 ogoh-ogoh yang berasal dari 7 banjar. Banjar Sanding Bitra membawakan cerita tentang Atma Prasangsya, Banjar Sanding Serongga menganggkat tema Kereta Kencana, Banjar Sanding Abianbase mengsusung tema Chandra Birawa, banjar Sanding Gianyar ngusung tema Durga Murti, dan lain sebagainya.

Pegeleran masing-masing sekaa teruna berlangung meriah, aman, dan tertib. Bahkan dari Banjar Padang Sigi sampai membuat para penonton gelak tawa karena melihat ogoh-ogohnya yang unik dengan menganggkat tema tajen.

Recent Posts :

Proses Pembuatan Ogoh-ogoh Sang Jogor Manik

ogoh-ogoh 2012

Proses merukapan suatu hal terpenting dari sebuah kegiatan. Jika dimaknai secara lebih mendalam proses lebih penting dari pada hasil, karena proses yang baik dan optimal tentu akan membuahkan hasil yang baik pula. Konsep ini berkaitan dengan kegiatan pembuatan ogoh-ogoh Sang Jogor Manik yang dikerjakan oleh St. Rama Sita, Sanding Bitra-Tampaksiring, Gianyar. Ogoh-ogoh ini beranjak dari filosofi berlakuknya hukum karmaphala, bahwa setiap langkah perbuatan, perkataan, pikiran kita selalu diingatkan oleh adanya hukum karmaphala. Di zaman sekarang, hukum karma memulai mengelami degradasi. Perbuatan buruk yang dilakukan pada masa sekarang cenderung tidak dasadari atau mungkin dilupakan akan membuahkan hasil yang tidak baik, walaupun dampaknya tidak dirasakan secara seketika. Namun itu, patut diyakini bahwa phala dari karma tersebut pasti dipetik walaupun waktunya tentu. Guna meningkatkan dan menguatkan kepercayaan terhadap hukum karmaphala, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat ogoh-ogoh yang bertemakan Sang Jogor Manik. Sang Jogor Manik merupakan tokoh pelaksana hukuman bagi atma yang sudah lepas dari jasadnya yang berbuat jahat pada kehidupan di dunia (maya pada). Kalau diibaratkan dalam kehidupan nyata, Sang Jogor Manik merupakan eksekutor terhadap orang-orang yang melanggar hukum. Perwujudan ini mengingatkan kembali sekaligus meningkatkan kesadaran untuk berkarma pada jalan yang benar sesuai dengan swadharma masing-masing. Dipilihanya tema ini juga sebagai media edukasi, karena dianggap mampu memberikan pemahaman berupa ilustrasi hukuman bagi orang-orang yang berbuat jahat, sehingga dapat menghindarkan umat manusia khususnya generasi muda dari perbuatan buruk. Juga sebagai media informasi mengenai nilai-nilai ajaran agama bagi masyarakat.

Unsur kreativitas menjadi sangat penting dalam pembuatan ogoh-ogoh Sang Jogor Manik. Walaupun sudah mendapatkan tema/ide, namun ide itu perlu diimplementasikan dalam wujud nyata yang pas dan tepat sesuai tema yang diusung. Daya kreativitas yang tinggi akan dapat memberikan sumbangan terhadap kemenarikan dan kualitas ogoh sehingga mampu memberikan kepuasan terhadap pembuat itu sendiri juga bagi masyarakat yang mencintai seni ogoh-ogoh.

Daya kreaivitas diperlukannya mulai dari proses perancangan, implementasi, dan finishing. Pada kegiatan perancangan dibuat gambar sketsa yang mendesain
bentuk tubuh, gerak, karakter, serta objek-objek yang akan dibuat. Proses implementasi merupakan langkah kedua berupa ilmplementasi dari tahap perancangan. Implementasi merupakan tahap yang memerlukan cukup waktu, maka itu proses pembuatakan ogoh dikerjakan kurang lebih selama satu setengah bulan. Kegiatan terakhir adalah finishing merupakan kegiatan berupa penghalusan, pengecetan, dan memberikan efek serta ornament tertentu. Melewati ketiga tahapan tersebut, patung ogoh-ogoh Sang Jogor Manik diharapkan menyerupai kewibawaan beliau dan mampu mengilustrasikan eksekusi terhadap roh-roh manusia yang pernah berbuat jahat di maya pada.


Malam Siwaratri di Desa Sanding

Pada abad ke 21 ini, globalisasi telah merambah ke segala aspek kehidupan manusia. Batas-batas antar negara tidak menjadi hambatan untuk mentransformasikan perubahan maupun pengaruh-pengaruh. Salah satu dampak dari globalisasi adalah penggunaan teknologi komunikasi yang tidak terelakkan. Misalnya handphone. Teknologi ini tidak bisa dihindarkan untuk tidak dimiliki. Kecanggihan teknologi ini sering disalahgunakan, akibatnya manusia dibajak oleh teknologi. Dampak yang esensial yaitu informasi-informasi yang kurang mendidik mudah dikomsumsi, sehingga dengan mudah mempengaruhi etika dan moral generasi muda. Mudahnya mengakses informasi yang bertentangan dengan nilai-nilai berdampak signifikan menurunkan sikap mental generasi muda.

Selain itu, berkembangnya jejaring sosial di internet yang belum optimal dapat digunakan sebagai media untuk memudahkan kehidupan. Teknologi tersebut hanya menjadi media untuk menampung keluhan dan informasi-informasi yang berkualitas rendah. Dari berbagai fenomena yang tidak mendidik tersebut, cenderung mengakibatkan kenakalan remaja meningkat  dan jauh dari nilai-nilai spiritual, etika dan moral .

Sebagai salah satu tindakan untuk membentengi diri dari pengaruh negatif globalisasi bagi muda mudi di Desa Sanding khususnya ST Rama Sita, ST Eka Dharma Laksana, dan ST Wira Dharma yaitu dengan melaksanakan malam siwa ratri.

Melalui perayaan hari raya siwa ratri ini, kita diingatkan untuk mulai sadar dan mencari makna akan kehidupan ini. Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Karena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagralah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Penyambutan 2012 Beda

Penyambutan tahun baru merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap akhir tahun. Berbagai acara diadakan untuk memeriahkan penyambutan tahun baru. Pementasan dance, musik keras-keras, pesta kembang api, bahkan pesta mengalirnya miras ke tubuh-tubuh muda menjadi menu rutin setiap tahun. Kalau diterka secara kasar berapa uang yang habis untuk penyambuatan tahun baru dan makna apa yang bisa kita petik dari penyambuatan yang bersifat glamor tersebut. Tentu hal itu memerlukan pemikiran reflektif kita bersama.

Menyikapi bentuk-bentuk penyambutan tersebut, maka muncul suatu pemikiran untuk menyambut tahun baru 2012 dengan cara menyelenggarakan pembersihan pada tempat-tempat suci khususnya Pura Khayangan Tiga di Desa Sanding. Ide ini muncul sebagai kesepakatan bersama antara tiga sekaa teruna yaitu St. Rama Sita, St, Eka Dharma Laksana, dan St, Wira Dharma melalui forum rapat tanggal 17 Desember 2011.

Kegiatan pembersihan dilakukan tepat pada hari penyambutan tahun baru 2012 yaitu pada tanggal 31 Desember 2011. Kegiatan ini tidak kalah semarak dengan penyambutan yang diisi acara musik-musik, dance-dance, dll. Antusiasme ditujukan oleh banyaknya anggota sekaa teruna ketiga banjar yang datang melaksanakan pembersihan di pura khayangan tiga.

Pembersihan dibagi menjadi tiga. St Rama Sita mendapat tugas di pura Penataran, St, Eka Dharma Laksana mendapatkan di Pura Dalem, dan St. Wira Dharma di Pura Desa/Bale Agung. Sebelum sampainya di masing-masing pura, terlebih dahulu ketiga St, berkumpul di banjar Sanding Serongga dan secara serentak berjalan kaki bersama-sama menuju pura-pura yang telah dibagikan. Selesai pembersihan pada masing-masing pura, ketiga St, kembali berkumpul di pura Catur Bhuana Sanding. Kegiatan ini diakhiri dengan jalan bersama menuju banjar masing-masing.

Sikaranya kegiatan seperti ini setiap tahunnya dapat dikembangkan dan ditingkatkan untuk meminimalkan kegiatan-kegiatan negatif yang justru dapat menjerumuskan generasi muda Sanding ke arah yang tidak baik. Perlu disadari bahwa hal-hal negatif akan semakin canggih menghantui para generasi muda kita. Namun dengan kegiatan yang bersifat spiritual seperti yang dilaksanakan diharapkan dapat membentengi diri generasi muda dari pengaruh-pengaruh negatif.

Melalui kegiatan bersih-bersih di pura kita dapat memetik makna bagi kehidupan dan semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu menganugerahkan kita semua kedamaian dan kekuatan untuk dapat menjalankan swadarma bakti kita masing-masing, dalam hitungan hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Selain itu besar harapan semoga ke depan persatuan dan kesatuan ketiga St, secara khusus dan St-St secara keseluruhan di Desa Sanding selalu dapat ditingkatkan.

Ngaben Masal Desa Sanding

Secara sederhana Ngaben adalah upacara pembakaran mayat. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.

Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda.

 

Upacara ngaben yang dilaksanakan di Desa Sanding sudah dipersiapkan sejak tiga minggu sebelum puncak acara. Desa Sanding yang terdiri dari 7 banjar semua menerapkan sistem ngaben masal. Sistem ngaben masal merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Apabila dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu, masyarakat di Desa Sanding waktu itu menerapkan sistem ngaben perorangan yang menghabiskan dana dan tenaga yang cukup banyak. Sistem perorangan ini pun hanya bisa dilaksanakan oleh warga yang ekonominya mapan. Berdasarkan pengalaman pada masa lalu kemudian muncul suatu pemikiran untuk menerapkan sistem ngaben masal. Ngaben masal merupakan suatu kegiatan upacara pitra yadnya yang dilaksanakan secara gotong royong sehingga meringankan setiap warga untuk melangsungkan upacara pengabenan. Disamping itu  sistem ini juga mempererat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Berbagai sarana upakara dan upacara  dipersiapkan dan dikerjakan secara gotong royong dengan penuh rasa kebersamaan. Seluruh pekerjaan dibagi-bagi berdasarkan tingkat kesulitan pembuatan sarana upakara yang ditentukan. Untuk pembuat Bade dan Lembu sebagaian besar dikerjakan oleh sekaa teruna, mulai dari membentuk lembu, melapisi dengan kain sampai dengan memberikan ornamen dan hiasan khas Bali. Hal yang sama juga dilakukan pada pembuaatan Bade. Sedangkan untuk perlengkapan lain seperti bale tunjuk, pembuatan bale pawedan, sanggah surya, dll dikerjakan oleh krama lanang (laki). Dengan penerapan seperti ini, selain sebagai hujud bakti terhadap orang tua juga sebagai media edukasi bagi para generasi muda untuk mengembangkan dan melestarikan warisan budaya. Karana perlu disadari bahwa tidak sedikit sekarang yang menjual bade dan lembu yang sudah jadi. Untuk menghindari sistem instan maka perlu pembiasaan seperti ini untuk generasi muda demi pelestarian budaya sekaligus mempelajari makna-makna dari setiap sarana upacara.

 

Puncak acara yang jatuh pada tangal 23 September 2011, khusunya untuk Banjar Sanding Bitra akan mengusung lembu sebanyak 4 buah dan 2 buah singa. Pada hari itu juga akan diarak satu buah Bade dan satu buah Wadah menuju Setra Jegi Adat Sanding yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari banjar Sanding Bitra ke utara. Prosesi ini merupakan kegiatan yang unik bahkan menjadi daya darik bagi para wisatawan yang melintas di sepanjang jalur menuju objek Wisata Tirta Empul dan Kintamani.

Sehari sebelum puncak acara tepatnya pada tanggal 22 September 2011 digelar upacara ngening dan nunas tirta. Pada upacara tersebut  dihadari oleh Bapak Bupati Gianyar Cok Ace. Dengan kehadiran Bapak Bupati Gianyar semakin memantapkan dan memeriahkan pelaksanaan upacara pengabenan di Desa Sanding dan  semoga di tahun-tahun berikutnya prosesi seperti ini dapat semakin meningkat baik dari segi kebersamaan, kesatuan, maupun dari ketulusan hati melaksanakan upacara tersebut.

(by admin)

Dekorasi Calonarang

Foto Bersama setelah mendekorasi halaman tengah pura dalem sanding dalam rangka pagelaran pentas seni calonarang 10 juli 2011

Rahajeng Galungan & Kuningan (6 dan 16 Juli 2011)

Hari raya galungan dan kuningan merupakan hari raya keagamaan umat hindu yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Rentetan hari raya sebelum galungan yaitu sugian bali, sugian jawa, penyekeban, penapian, penyajan, penampahan, dan galungan. Sehari setelah galungan dikenal dengan hari manis galungan. Kuningan dilaksanakan sepuluh hari setelah hari raya galungan.

Semoga kita umat sedharma dapat melaksankan hari raya galungan & kuningan dengan hati yang tulus, hening,  dan santhi untuk mencapai kebahagian hidup lahir dan bhatin.

Ogoh-ogoh Rama Sita

Jauh hari sebelum perayaan tahun baru caka 1933  st rama sita terlebih dahulu mengadakan rapat. Tujuan dilaksanakannya rapat untuk menyapakan persepsi sekaligus memperoleh keputusan yang demokratis mengenai pembuatan ogog-ogoh berkaitan dengan hari raya nyepi 1933. Hasil keputusan rapat bahwa st rama sita sepakat untuk merancang bangun ogoh-ogoh dengan dana sepenuhnya berasal dari kas st rama sita. Keputusan ini juga diperkuat oleh kebijakan dari desa yaitu tidak ada larangan untuk membuat ogoh untuk tahun 2011. Kuatnya dasar untuk membuat ogoh2 semakin membangkitkan gairah kreativitas remaja di padepokan st rama sita.  Tingginya keingian untuk berkreativitas ditunjukan dengan pembuatan ogoh yang lebih dini  yaitu di akhir bulan januari walaupun perayaan nyepi bulan maret. Kreativitas ini juga tidak bisa terlepas dari dukungan krama banjar begitu juga para donatur yang telah dengan tulus menyumbangkan moral maupun materi. Semoga kedepan kreativitas seperti ini dapat berlangsung secara positif sebagai salah satu bentuk apresiasi para remaja terhadap budaya dan kesenian.

Proses pembuatan ogoh-ogoh tidak hanya melibat para remaja putra tetapi remaja putri juga terlibat. Ini sebagai komitmen anggota st rama sita untuk aktif dalam semua dan setiap aktivitas.  Pengerjaan oogoh dilaksanakan secara insidental dan menyesuaikan dengan kondisi para pembuat/perancang. namun secara rata-rata pengerjaan dilaksanakan pada sore dan malam hari. Begitu dininya sudah merancang ogoh sehingga tampak seperti gambar dibawah pembuatan ogoh-ohoh yang sudah selesai 50%.

*post by admin

Raih Juara Provinsi

SMKN 1 Tampak Siring meraih prestasi yang luar biasa, baru lima tahun berdiri telah mampu menjuarai berbagai lomba tingkat provinsi. Hal tersebut diungkapkan Kepala sekolah SMKN 1 Tampak Siring, Dewa Made Wija, dalam Peringatan Lustrum I/ HUT ke-5 SMKN 1 Tampak Siring di Wantilan, Sanding, Tampaksiring (04/12). Lebih lanjut prestasi tersebut antara lain; juara I lomba Gugus Depan Tergiat Pramuka Penegak tingkat Provinsi Bali, juara I lomba Pidato Bung Karno Gebyar Cipta Intelektual tingkat SMA/SMK se-Bali, juara II Lomba karya Tulis Ilmiah tingkat Provinsi, juara III Karya Ilmiah Remaja tingkat SMA/SMK se- Bali, juara III lomba Debat Politik tingkat provinsi dan juara harapan II LKTI-L SMA/SMK se- Bali. Ditambahkan, dalam rangka meningkatkan kualitas siswa, SMKN 1 Tampaksiring bekerja sama dengan DU/DI (Dunia Usaha) membuka bengkel kerja dengan nama “Unit Produksi” untuk dua jurusan/ program yang ada di SMKN 1 tampaksiring, yakni; akomodasi perhotelan dan teknologi informatika. Sehingga dari keahlian yang dimiliki hampir 90 % lulusan SMKN 1 Tampaksiring telah tertampung di dunia usaha dan dalam 3 kali Ujian Nasional, hasilnya 100 % siswa lulus. Dalam sambutannya Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, I Gusti Ngurah Wijana, bangga dan mengapresiasi usaha SMKN 1 Tampaksiring dalam meningkatkan mutu melalui kerjasama dengan pihak ke-3 (DU/DI dan masyarakat). Dari usaha tersebut, SMKN 1 Tampaksiring mampu merubah posisi, yang tadinya merupakan satu dari dua SMKN kecil di Kabupaten Gianyar menjadi SMKN yang berprestasi. Dan dalam lustrum I dapat menjadi asset daerah yang mampu meraih banyak prestasi tingkat Provinsi. Gusti Ngurah Wijana menekankan kepada para siswa untuk terus meningkatkan pengetahuan, sikap profesionalisme dan penguasaan keterampilan, agar dapat berkembang didunia usaha dan profesionalsime di era globalisasi. Dan diharapkan SMKN 1 Tampaksiring membawa perubahan dan kemajuan di bidang pendidikan serta menjadi tolak ukur bagi penyelenggaraan dan peningkatan mutu di Kabupaten Gianyar. (Humas Gianyar)

(tersedia pada http://www.gianyarkab.go.id/)

Galungan dan Kuningan

Keluarga Besar ST. Rama Sita Mengucapkan Selamat Hari Raya

Galungan dan Kuningan

8 dan 18 Desember 2010


Dumogi Hyang Widhi
Mapaica Panugrahan, Rahayu Lan Rahajeng

Ring Jagat Lan Semeton
Sareng Sami…

Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan

Makna Filosofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata “Jawa” di sini sama dengan “Jaba”, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing- masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata “bali” dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan “nirmalakena” (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut “pamyakala lara melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkanmenghaturkan canang meraka
dan “matirta gocara”. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

(Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

dikutip pada http://gugling.com/sejarah-dan-makna-hari-raya-galungan.html

Tumpek Uduh

Sabtu, 13 November 2010

Disebut juga hari raya Tumpek Uduh, Tumpek Pengarah, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Bubuh. Hari ini adalah hari turunnya Sanghyang Sangkara yang menjaga keselamatan hidup segala tumbuh- tumbuhan (pohon-pohonan). Beliau memelihara agar tumbuh-tumbuhan itu subur tumbuhnya, hidup dan terhindar dari hama penyakit, agar supaya memberikan hasil yang baik dan berlimpah, melebihi dari yang sudah-sudah dan hemat walaupun dipakai atau dimakan.

Bebantenan untuk selamatan ini adalah: peras, tulung sesayut tumpeng, bubur gendar, tumpeng agung, penyeneng, tetebus dan serba harum-haruman. Lauknya guling babi atau itik.

Widhi-widhana untuk keluarga dan diri sendiri : sesayut cakrageni, dan dupa harum, dipersembahkan dalam suasana hening cipta menjernihkan segenap pikiran menuju ketenangan bathin yang mengakibatkan timbulnya adnjana sandhi.sumber : http://www.babadbali.com/piodalan/tpk-uduh.htm

Ratusan Hektar Padi di Gianyar Diserang Tikus

Gianyar (Bali Post) –
Wakil Bupati Gianyar, Dewa Made Sutanaya, prihatin dengan nasib petani setempat. Ini terjadi karena 286 hektar tanaman padi di Kabupaten Gianyar tahun 2010 ini diserang tikus. Kondisi tersebut membuat petani makin susah di Gianyar. Di samping mereka pusing dengan kondisi musim yang tak menentu, serangan tikus menjadi penyebab bertambahnya kerugian yang diderita oleh petani di Gianyar.

Salah satunya terlihat di Subak Selasih Desa Sanding Kecamatan Tampaksiring Gianyar. Dari 39 hektar, 21 hektar di subak tersebut terserang tikus. Hal ini tentu membuat petani makin resah. Pekaseh Subak Selasih, I Wayan Arta Adi, mengatakan serangan tikus dalam beberapa bulan belakangan ini di Subak Selasih makin meningkat.

Dikatakan, warga subak yang jumlahnya 121 orang ini dibuat kewalahan memburu tikus-tikus untuk dibunuh. Namun, upaya yang dilakukan tak kunjung berhasil. Jumlah tikus malah makin banyak dan terasa tak pernah surut.

Terhadap persoalan itu, Wakil Bupati Gianyar, Dewa Made Sutanaya, Kamis (21/10) kemarin, di sela-sela kegiatan pengeropyokan tikus, mengungkapkan pemerintah telah berupaya menanggulanganinya dengan memberikan sejumlah bantuan pembasmian. Berdasarkan laporan untuk periode bulan Januari – September 2010 dari Dinas Pertanian, di Kabupaten Gianyar dalam tahun 2010 telah terjadi serangan tikus menimpa lahan pertanian seluas 286 hektar. Untuk pembasmian dengan melakukan kegiatan pengeropyokan tikus, Subak Selasih mendapatkan bantuan berupa Aldo/Alat Penyemprot sarang tikus sebanyak 20 buah, belerang 100 kg, minyak tanah 25 liter, serta satu dus bom tikus dari pemprov.

Sementara Kepala UPT Kecamatan Tampaksiring, Wayan Warta, menjelaskan tikus merupakan hewan dengan tingkat perkembangbiakan yang sangat pesat.

Serangan tikus pada tanaman petani menyebabkan kerusakan hingga 60 persen. Sehingga atas serangan itu, petani sangat dirugikan. Sementara untuk pengeropyokan yang dilaksanakan kemarin, dari pukul 07.00 wita – 10.00 wita telah berhasil membasmi 47 ekor tikus. Namun diperkirakan masih ada ribuan tikus yang bersembunyi di lahan pertanian lainnya. ”Kegiatan pengropyokan tikus akan dilakukan kembali oleh Subak Selasih selama satu minggu ke depan,” jelasnya. (kmb16)

sumber: http://www.balipost.co.id

Tumpek Landep

Sabtu 9 Oktober, Tumpek Landep
Rerainan tumpek landep jatuh pada hari Saniscara Wuku Landep yang datangnya setiap enam bulan sekali. tumpek Landep adalah pemujaan kepada Sanghyang Siwa dalam wujudnya sebagai Sanghyang Pasupati yang memberi taksu atau tuah kepada semua pusaka atau senjata. Pada hari ini umat melakukan penyucian dan pemujaan terhadap pusaka leluhur baik itu berupa keris, tombak dan sebagainya agar tetap bertuah. Adapun makna dari Tumpek Landep adalah agar umat senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi sehingga memperoleh tuah / pasupati berupa pikiran yang tajam (landep) agar bisa memilah – milah mana yang baik dan yang buruk. Adapun upakara yang dihaturkan adalah tumpeng putih kuning adandanan dengan ulam sesuai dengan kemampuan, gerang trasi bang, sedah woh yang dihaturkan di sanggah dan dipersembahkan kepada Sang Hyang Siwa, lalu nedunang dan ngiasa semua Pusakan/pajenengan yang dimiliki, dengan upakaranya Sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yuida, suci daksina, peras, canang wangi-wangian yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Pasupati (http://idapedandagunung.com)

Pelantikan Pengurus Baru Periode 2010-2013

Untuk menuju suatu organisasi yang berkelanjutan, kaderisasi sangat mutlak diperlukan. Begitu juga yang dialami ST Rama Sita. Setalah melalui beberapa tahap dalam penentuan calon ketua periode 2010-2013 maka tetah ditetapkan secara musyawarah mufakat seorang ketua dan wakil ketua. Dengan telah terpilihanya ketua yang baru, maka diperlukan pengakuan yang resmi baik dari banjar adat, dinas, maupun desa. Untuk itu tepantnya pada tanggal 14 Agustus St Rama Sita menyelenggarakan upacara pelantikan Ketua St. untuk masa bakti 2010-2013. Prosesi pelatikan tahun ini diselenggarakan secara kolaboratif dengan 2 dusun lainnya yaitu banjar sanding serongga dan banjar sanding abianbase. Ini dilakukan ketiga banjar  secara  bersamaan yang  didasarkan atas pertimbangan yaitu untuk memperat tali persaudaraan antara St. Rama Sita, St. Eka Dharma Laksan dan St. Wira Dharma. Pelatikan kepengursan sekaa truna truni ini, dirangkaikan dengan beberapa perlombaan salah satunya adalah pertandingan bola voli antar ketiga banjar. Tuan rumah penyelenggara pelatikan adalah banjar sanding serongga atau ST. Eka Dharma Laksana. Jadi untuk semua acara dalam ranggka pelantikan dilaksankan/bertempat di banjar sanding serongga. Upacara pelatikan berlasung lancar, dengan beberapa undangan dari prajuru banjar maupun desa. Melalui pelatikan ini, semoga kepengurusan yang baru dapat menjalankan swadharma bhaktinya sebagai  pengurus yang mengayomi anggota dan masyarakat. Sukses selalu untuk kepengurusan periode 2010-2013 ketiga banjar, dan semoga  ini dapat menjadi panutan bagi generasi berikutnya.

Kaderisasi Rama Sita

Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan. Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”
Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi. Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis.
Sebagai subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah seorang pemimpin. Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi, pendidikan! Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah Hatta “sekolah-sekolahan”, melainkan dalam pengertian luas. Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal kaderisasi adalah potensi dasar sang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap problema-problema sosial lingkungannya.

Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi/pergerakan. Yaitu: harus ditemukan upaya mencari bibit-bibit unggul dalam kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka organisasi atau sebuah pergerakan harus terlebih dahulu mematangkan visi-misi mereka; dan termasuk sikap mereka terhadap persoalan mendesak dan aktual kemasyarakatan; serta pada saat yang sama tersedianya para pengkader yang handal, untuk menggarap bibit-bibit potensial tadi. Kader-kader potensial, setelah mereka memahami dan meyakini pandangan dan sistem yang telah diinternalisasikan, maka jiwanya akan terpacu untuk bekerja, berkarya dan berkreasi seoptimal mungkin. Maka, di sini, organisasi/pergerakan dituntut untuk dapat mengantisipasi dan menyalurkannya secara positif. Dan memang sepatutnya organisasi/pergerakan mampu melakukannya, karena bukankah yang namanya organsiasi/pergerakan berarti terobsesi progresif bergerak maju dengan satu organisasi yang efisien dan efektif, bukan sebaliknya?
Belakangan ini, sudah dimulai upaya ke arah kaderisasi yang berorientasi pada karya dan aksi sosial dalam level general, berupa penumbuhan dan stimulasi etos intelektual dan sosial. Jadi, bagaimana menggabungkan atau menemukan konvergensi yang ideal antara aktifitas berpikir (belajar) sebagai—entitas mahasiswa—dan aktifitas aksi sosial sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif. Dengan kata lain, harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai tekstual-normatif tadi dengan realitas-kontekstualnya.
‘Alâ kulli hâl, tampaknya perlu dicermati kembali urgensi dari kaderisasi berkala yang dilakukan oleh organisasi apapun. Kaderisasi merupakan kebutuhan internal organisasi yang tidak boleh tidak dilakukan. Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan pergantian disana. Namun satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya.
Sukses atau tidaknya sebuah institusi organisasi dapat diukur dari kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan. (http://permatacanberra.wordpress.com)

Dalam Organisasi suatu kaderisasi merupakan hal mutlak yang diperlukan sebagai kelanjutan dari perjalanan suatu organisasi, begitu pula dengan organisasi kepemudaan. Untuk mencapi visi, misi, dan harapan masyarakat, maka organisasi itu harus terus berupaya dan berusaha memberikan kontribusi yang positif baik kepada anggota organisasi maupun masyarakat pada umumnya. Sebagai hal yang mutlak terjadi pada organisasi St. Rama Sita tidak bisa terlepas dari hal tersebut. Genap dua setengah tahun kepengurusan maka kepengurusan terebut layak dilakukan kaderisasi sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertengan tahun 2010 St. Rama sita akan melakukan kaderisasi kepengurusan sesuai dengan ADRT. Proses kaderisasi tentu diharapkan dapat menghasilkan kader-kader yang memilki tanggung jawab, sosial, emosional, spritual serta komitmen yang tinggi untuk memajukan organisasi. Menghasilkan kader yang berkualitas diperlukan raw input yang berkualitas juga, untuk itu dalam pengkaderan ini diharapkan mampu menghasilkan calon pemimpin berkualitas yang menjadi harapan kita bersama.

Bazar Keliling

Berdasarkan keputusan rapat ST. Rama Sita yang telah dilaksanakan memutuskan bahwa ST. Rama Sita akan mengadakan  Bazar keliling. Penyebaran kupon basar mulai disebarkan dari tanggal 2 mei 2010. Untuk penyerahan/pengambilan/pelaksanaan bazarnya start dari tanggal 21 Juni-25 Juni 2010. Kepada rekan-rekan semua mohon dukungan material dan spiritual semoga kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar.

Nyepi Caka 1932 di Sanding

 

Ogoh-ogoh ST. Rama Sita

 

Perayaan Pergantian tahun baru caka di Banjar Sanding Bitra berlangsung sangat meriah. Itu ditujukan mulai dari proses pembuatan ogoh-ogoh yang hampir dikerjakan selama 2 bulan. Ogoh-ogoh yang buat sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di mana pada tahun sebelumnya banyak mengambil tema ogoh-ogoh berupa raksasa dan montser. Pada tahun baru caka 1932 tema pembuatan ogoh-ogoh berubah menjadi tema pewayangan. Pembuatan ogoh-ogoh pada tahun ini (th. 2010) hampir menghabiskan dana sekitar 3 jutaan. Hal ini dikarenakan tema pewayangan yang dianggkat menceritakan pertarungan antara gatotkaca dan raksasa, sehingga memicu besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk membuat dua buah ogoh-ogoh. Menjelang pengarakan ogoh pada hari Senin tanggal 15 Maret 2010, St. Rama Sita sebelumnya melakukan pembersihan jalan yang akan dilewati oleh ogoh-ogoh yang dilaksanakan pada hari minggu . Dalam kegiatan ini dilakukan pemotongan terhadap dahan pohon yang terlalu lewat ke ruas jalan. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan alat penyangga (sanan) untuk ogoh-ogoh. Selain pembuatan sanan ada juga sebagian anggota St Sama Sita membuat rancangan meriam yang dibuat dari bambu yang akan dioperasikan pada saat malam pengerupukan. Adanya meriam bom ini menambah ramainya dan meriahnya suasana malam pengerupukan. Pada malam harinya setelah pembuatan sanan yaitu pada pukul 20.30 ogoh-ogoh kemudian diarak menuju lapangan (jaba pura melanting banjar Sanding seronggo). Ini dilakukan karena ogoh-ogoh dari ketiga banjar akan diupacarai secara bersamaan pada upacara pencaruan pada saat hari pengerupukan esok harinya (15 Maret 2010). Pada puncak acara yaitu tepatnya pada hari Senin tanggal 15 Maret 2010, prosesi pengarakan ogoh-ogoh berjalan tertib, yang menumpuh jarak cukup panjang dengan mengitari 3 (tiga) buah

 

karya St rama sita “Boom Meriam Rama Sita”

 

dusun yaitu Dusun Sanding Bitra, Sanding Serongga, dan Sanding Abianbase. Prosesi pengarakan ogoh-ogoh dimulai pukul 18.00 dan berakhir pada pukul 20.30 wita. Perayaan pengerupukukan tidak hanya dilakukan oleh st rama sita saja, melainkan juga warga banjar ikut berpartisipasi memeriahkan perayaan malam pengrupukan dengan menyumbangkan gambelan beleganjur. Besar harapan kita bersama semoga perayaan malam pengerpukan untuk tahun-tahun berikutnya dilaksanakan lebih tertib dengan memaknai perayaan hari raya tersebut.

Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan deskripsi perayaan pengerupukan di Banjar Sanding Bitra di samping juga sebagai kenangan perayaan Nyepi tahun barucaka 1032 bagi Stt Rama Sita maupun krama banjar.

 

 

 

 

 

 

 

Pembuatan Ogoh-Ogoh St Rama Sita

Selayang pandang

Pergantian tahun baru caka sudah dapat dihitung dengan jari. Salah wujud kreativitas yang dapat disumbangkan oleh stt rama sita pada saat malam pergantian tahun baru caka  yaitu dengan pembuatan ogoh-ogoh. Pembuatan ini didasarkan atas beberapa hal yaitu. (1) keputusan dari desa pekraman yang telah memberikan izin untuk membuat ogoh-ogoh, (2) keputusan kelihan banjar sanding bitra, (3) hasil Rapat Stt. Rama Sita. Berdasarkan ketiga dasar itu maka stt rama sita memutuskan untuk membuat ogoh-ogoh.

Pembuatan Ogoh-ogoh  Sudah 40 % diselesaikan yang dimulai di pertengan bulan pebruari. Mengenai foto teman-teman yang bekerja belum kami sempat upload mohon bersabar dulu.

Donation

Mengingat dari tahun ke tahun pembuatan ogoh selalu berbenturan dengan materi maka dengan pesan singkat ini jika  anggota stt maupun krama berkenan memberikan sumbangan dalam bentuk apapun panitia pembuatan ogoh-ogoh sangat berterima kasih. Hal ini dikarenakan minimnya dana yang dimiliki oleh Stt rama sita, disamping itu juga masih ada kegiatan-kegiatan yang lebih diprioritaskan.

Tirta Yatra St. Rama Sita

Atur Piuning “Tirta Yatra” Stt. Rama Sita

Pura Menjangan Kabupaten Buleleng

Dasar Pemikiran

Naik Perahu ketika akan menuju pulau menjangan

Bertepan dengan jatuhnya hari Raya Pagerwesi pada tanggal 3 Pebruari 2010 Stt. Rama Sita Sanding Bitra akan “Tangkil” ke Pura Menjangan Kabupaten Buleleng. Kegiatan ini dilakukan mengingat Stt rama Sita pada masa bakti sebelumnya (sebelum periode 2004-2007) pernah mengadakan Tirta Yatra ke luar pulau Bali tepatnya di pura Gunung Semeru dan Pura Belambangan. Begitu Antusiasnya Stt Rama Sita pada waktu itu, tentu kita sebagai generasi penerusnya harus bisa meniru hal itu. Disadari Kita sebagai mahluk sosial dan individu terkadang sedikit mempunyai waktu, dan juga mengingat kesibukan sehari-hari sehingga kita tidak sempat untuk mengunjungi pura-pura yang ada di Bali. Untuk mengunjungi pura tersebut juga terhambat dengan terbatasnya dana maupun sarana. Mengatasi hal itu kita perlu adakan suatu kegiatan yang mampu merealisasikan tugas tersebut yaitu dengan melaksanakan Tirta Yatra. Tirta Yatra yang dilaksanakan Stt Rama Sita akan sangat membantu anggota yang tidak bisa tanggkil baik karena alasan waktu, biaya, maupun sarana. Dengan dilakukannya kegiatan ini, maka semua anggota Stt Rama Sita memiliki kesempatan untuk “tanggkil”

Perjalanan menuju pulau menjangan

Kegiatan ini merupakan salah bentuk, untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Tirta yatra dilaksanakan sesuai dengan keputusan rapat Stt Rama Sita. Hasil rapat memutuskan bahwa anggota Stt Rama Sita tidak diwajibkan untuk ikut, melainkan bersifat tulus hati. Kegiatan ini juga terbuka bagi karma banjar sanding bitra yang ingin “tangkil”.

ketua st sedang berpose

Kontribusi Peserta

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak travel dan sewa boat maka telah ditetapkan besar biaya yang dikenakan pada tiap individu yaitu sebesar Rp. 80.000 dengan rincian sebagai berikut.

Biaya Bus Rp. 50.000 (PP)

Biaya Boat Rp. 20.000 (PP)

Konsumsi Rp. 10.000 (PP)

TOTAL Rp. 80.000

Waktu dan Pendaftaran

Tirta Yatra akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal : Rabu, 3 Pebruari 2010

Pukul : 08.00-selesai

Tempat : Pura Menjangan, Gerokgak-Kabupaten Buleleng

kepada anggota stt rama sita yang ingin tangkil begitu juga karma banjar Sanding Bitra terutama yang

ada di “luar sana” bisa menghubungi ketua Stt. Rama Sita di no Hp. 081916247310

Tumpek Wayang

Sabtu, 6 Pebruari 2010
Bertepatan dengan hari raya tumpek wayang Pkk Gita Swari banjar Sanding Bitra, Ds. Sanding Tampaksiring-Gianyar diliput oleh Bali TV. Sehubungan dengan itu, ST. Rama Sita juga harus ikut berpatisipasi mensukseskan acara tersebut. Salah satu sumbangan yang dapat diberikan berupa mendekorasi panggung/bale banjar. Ini dilakukan oleh St Rama Sita mulai dari mencari bahan sampai merangkainya. Walaupun pada hari tersebut hanya beberapa orang saja yang hadir namun itu merup

 

foto bersama

 

akan permasalahan yang klasik dalam sebuah organisasi. Anggota yang sedikit yang datang tidak menjadi hambatan dalam berkreasi, dari pada banyak orang tapi itu tidak menyelesaiakan perkerjaan mungkin “kata” yang tepat dijadikan bahan pertimbangan.
Mendekorasi tempat dilaksanakan dari pagi pukul 07.00 sampai 15.00 wita walaupun diguyur sedikit hujan, ini tidak menjadi hambatan tetapi hal yang terpenting adalah mendekorasi panggung bisa selesai sebaik mungkin. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di bale banjar saja tetapi sebagian anggota st Rama Sita juga menghias bangunan ( bale) yang ada di merajan. Krama banjar pada saat itu juga ikut terlibat “mebat” yaitu mempersiapakan sarana upakara dalam rangka memperingati hari raya tumpek wayang.
Besar harapan kegiatan seperti bisa dilaksanakan secara berkesinambungan, sebagai aktivitas yang menumbuhkan kebersamaan, social, kreativitas, dan sebagai suatu tugas yang tidak bisa dikerjakaan sendiri, melainkan tugas bersama.

Penyambutan Tahun Baru 2010 ST. Rama Sita

Jauh Hari sebelumnya ST. Rama Sita telah mempersiapkan rancangan penyambutan tahun baru 2010. Hal ini ditujukan dengan diadakannya rapat anggota ST. Rama Sita  sampai dengan pembentukan panitia panyambutan tahun baru 2010. Hasil rapat itu memutuskan bahwa ST. Rama Sita akan melaksanakan penyelenggarakan penyambutan tahun baru 2010. Rancangan  Acara kegiatan penyambutan baru mulai dari pertandingan bola voli, lomba kesenian, Panjat pinang, atraksi band  dan masih banyak lagi acara yang   diselenggarakan.

Ingin melihat video dokumentasi penyambutan tahun baru 2010 silakan hubungan Ketua St. Rama Sita kasetnya bisa dipinjam ataupun dicopy

CALON ARANG RAMA SITA 2015

sisya adalah para murid dari rangda

Pada manis karya di pura Penataran Desa Sanding akan di adakan hiburan berupa calonarang yang di persembahkan oleh ST. Rama Sita. Adapun cerita calon arang sendiri di ambil dari cerita rakyat Bali. Dikisahkan Pada jaman Raja Airlangga yang berkuasa di Kerajaan Kediri yaitu pada abad ke-14 ada seorang Ibu yang menguasai Ilmu Pengleakan yang bernama Ibu Calonarang. Pada waktu Ibu Calonarang masih hidup pernah menulis buku lontar Ilmu Pengleakan empat buah yaitu :

Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, Lontar Jung Biru.

Calonarang adalah nama julukan seorang perempuan yang bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri.

Calonarang berstatus Janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda atau dalam bahasa Bali disebut balu, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.

pemeran utama dalam cerita calon arang

Calonarang adalah Ratu Leak yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri Gerubug (wabah) yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.
Itu lah sepenggal cerita tentang calon arang yang akan di pentaskan oleh ST. Rama Sita dengan penampilan dan hiasan panggung yang seadanya kami siap menggempur panggung pada malam itu dan serentah pada tabuh pembuka semua penonton bersorak dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Dan kami bersyukur kepada kehadapan Ida Shang Hyang Widhi Wasa karena sampai akhir acarapun penonton masih ramai dan sangat menikmati hiburan yang kami suguhkan.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih KEPADA PIHAK YANG MENDUKUNG dan tidak mendukung kami di setiap kegiatan apapun kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Karena tanpa dukungan kalian kami hanya lah sebongkah berlian yang terkubur di tanah dan tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak mendukung kami karena kritik pedas kalian membuat kami makin berbenah diri untuk menghadapi hari esok yang lebih baik.

Sanur Kite Festival 2013

piagam pengharggan dan piala sanur kite pestifal

piagam pengharggan dan piala sanur kite festival

Sanur Kite Festival adalah ajang bergengsi lomba layang-layang di Bali yang diadakan setiap tahun. Penyelenggara kegiatan ini adalah Desa Adat Sanur, Denpasar, Bali. Ratusan peserta dari berbagai banjar dan kimunitas pecinta layangan tergabung di sini. Sanur Kite Festival diselenggarakan di pinggir pantai Padang Galak, Sanur. Jenis layang yang dilombakan meliput layangan be-bean (layangan ikan), layangan janggan (layang dengan ekor mencapai puluhan meter), layangan pecukan, dan layangan kreasi. Panas dan terik matahari tidak membuat para peserta dan penonton beranjak. Mereka tetap antusias sampai selesai lomba.

kebersamaan sanur kite pestifal

kebersamaan sanur kite festival

Kami baru 2 kali mengikuti lomba layang-layang dan sangat beruntung untuk kedua kalinya kami ikut serta sudah mendapatkan pemenang penampilan seni terbaik disana kami mendapat penghargaan di katagori Best Of The Best Art Performance. Sangat prestasi yang luarbiasa dan kami tidak akan terlena dengan pencapaian kami saat ini.

Terimakasi semua pihak yang membenci dan mendukung kami. Dari semua pandangan kebencian dan kritik-kritik pedas kalian membuat kami tersadar betapa kami harus bangkit dari tidur yang panjang.

Belajar di Pintu Bali

Belajar di Pintu Bali

Proses kehidupan tidak terlepas dari peran guru. Guru adalah penerang bagi setiap umat manusia yang memerlukan pencerahan. Orang yang belum menemukan gurunya akan sulit mencapai pencerahan. Ada sebuah buku (Bali Shanti) saya kutip di sana menyatakan bahwa guru dibedakan menjadi empat yaitu guru buku suci, guru hidup, guru rahasia, dan guru simbolik. Guru buku suci adalah kepustakaan suci yang membantu membuka pikiran, menuntun jalan, dan sumber pengetahuan untuk menjadi manusia tercerahkan. Guru hidup adalah guru pengajian, guru spiritual, guru meditasi, dan yang serupa, yang memberikan wejangan-wejangan bijak kepada kita secara langsung. Guru rahasia ini mari kita cari bersama-sama karena sifatnya rahasia. Terakhir ada guru simbolik yang guru yang membelajarkan  kita dari simbol-simbol yang kaya makna. Salah satu contoh guru simbolik adalah belajar dari ukuran pintu Bali kecil contoh pintu pura, pintu merajan (tempat sembahyang di keluarga), dan pintu bale daje (rumah tradisional Bali).

Pintu Bali adalah salah satu guru simbolik. Ibarat membangun sebuah karya perlu memperhatikan berbagai aspek seperti apa yang dibangun?, bagaimana caranya?, untuk apa?, dan bagaimana estetikanya? Barangkali para leluhur sudah sangat matang memikirkan konsep membangun sebuah karya, seperti pintu pura maupun pintu rumah tradisional di bali yang ukurangnya hanya bisa dimasuki oleh satu orang. Meresapnya dan berkembanganya prinsip efisiensi, efektifitas, seni, dan trend yang tidak tepat telah membawa dampak pada perubahan pintu Bali. Beberapa bulan bahkan beberapa tahun yang lalu ukuran pintu khususnya rumah tradisional orang bali sudah mulai berubah yaitu menjadi lebih lebar dua sampai tiga meter. Dulunya hanya bisa dimasuki orang satu orang saja dengan ukuran 70-90 cm (kalau berdua tidak muat), dan sekarang berempat orang bisa masuk sekalian. Jenis pintu dimaksud adalah pintu ukir yang didatangkan dari luar pulau Bali. Datangnya pintu ukir impor ini, sedikit membuat kekhawatiran para produsen pintu Bali, karena konsumen cenderung memilih pintu ukir impor. Ini terjadi karena berbagai alasan yaitu pintu ukir impor lebih murah, cara memasang lebih mudah dan tidak memerlukan ornamen yang rumit cukup minimalis, kalau mau memasukkan sesuatu ke dalam ruangan juga mudah karena lobangnya lebar. Kekawatiran para produsen lokal disiasati dengan membuat model yang sama dengan pintu ukir impor akan tetapi ukirannya tetap Bali.

Berkaca dari fenomena tersebut, tentu muncul pertanyaan ke mana lari pintu Bali yang kecil mungil itu? Apakah masih diminati atau akan ditinggalkan? Apakah maknanya sudah diimplementasikan? Semoga apa yang leluhur wariskan tidak hilang begitu saja dan jangan sampai terlalu membanggakan produk luar yang belum tentu diketahui makna filofisnya. Mari kita buka paradigama kita, dengan menanyakan diri sendiri tentang apa itu? Bagaimana caranya? dan untuk apa? Dalam memaknai segala hal yang diwariskan oleh lelulur.

Ditelisik secara cermat bahwa pintu masuk Bali mengandung makna filosofis yaitu membangun karakter umat manusia menuju kesempurnaan. Makna filosofis pintu masuk pura misalnya, dengan ukurannya yang kecil, umat didik bersabar memasuki pura satu persatu. Umat yang datang belakangan dilatih untuk menahan emosi tidak melabrak umat yang sedang berada di depannya. Umat yang membawa sesajen dilatih belajar meditasi untuk tidak mengeluh, teguh membawa sesajen agar tetap utuh dan tidak ternodai (cemer) karena merasa capek kemudian ditaruh di bawah dada ataupun di”tengteng”. Ketika akan masuk dan melewati pintu ada kusen (pembatas) pintu bagian bawah. Ini juga mendidik kita untuk tetap hati-hati. Artinya walaupun kita sudah mampu menggapai pintu kesuksesan kita harus tetap hati-hati. Tidak terlena dengan kesuksesan yang dicapai.  Walaupun berada di tangga kesuksesan jangan terlalu berianggembira. Begitu juga sebaliknya, ketika berada di tangga bawah (ketika akan menuju pintu pura) jangan terlalu bersedih hati dan merasa sangat menderita. Carilah letak keseimbangan itu dengan cara menyayangi kedua hal itu, baik senang maupun sedih, benar maupun salah.

Begitu hebatnya para leluhur menghasilkan mahakarya yang luar biasa. Mari kita belajar lebih dalam pada guru simbolik, dan juga guru-guru yang lainnya. Bali kaya guru simbolik, mari kita jaga, kita lestarikan, kita sayangi, kemudian kita belajar dariNya.