Belajar di Pintu Bali


Belajar di Pintu Bali

Proses kehidupan tidak terlepas dari peran guru. Guru adalah penerang bagi setiap umat manusia yang memerlukan pencerahan. Orang yang belum menemukan gurunya akan sulit mencapai pencerahan. Ada sebuah buku (Bali Shanti) saya kutip di sana menyatakan bahwa guru dibedakan menjadi empat yaitu guru buku suci, guru hidup, guru rahasia, dan guru simbolik. Guru buku suci adalah kepustakaan suci yang membantu membuka pikiran, menuntun jalan, dan sumber pengetahuan untuk menjadi manusia tercerahkan. Guru hidup adalah guru pengajian, guru spiritual, guru meditasi, dan yang serupa, yang memberikan wejangan-wejangan bijak kepada kita secara langsung. Guru rahasia ini mari kita cari bersama-sama karena sifatnya rahasia. Terakhir ada guru simbolik yang guru yang membelajarkan  kita dari simbol-simbol yang kaya makna. Salah satu contoh guru simbolik adalah belajar dari ukuran pintu Bali kecil contoh pintu pura, pintu merajan (tempat sembahyang di keluarga), dan pintu bale daje (rumah tradisional Bali).

Pintu Bali adalah salah satu guru simbolik. Ibarat membangun sebuah karya perlu memperhatikan berbagai aspek seperti apa yang dibangun?, bagaimana caranya?, untuk apa?, dan bagaimana estetikanya? Barangkali para leluhur sudah sangat matang memikirkan konsep membangun sebuah karya, seperti pintu pura maupun pintu rumah tradisional di bali yang ukurangnya hanya bisa dimasuki oleh satu orang. Meresapnya dan berkembanganya prinsip efisiensi, efektifitas, seni, dan trend yang tidak tepat telah membawa dampak pada perubahan pintu Bali. Beberapa bulan bahkan beberapa tahun yang lalu ukuran pintu khususnya rumah tradisional orang bali sudah mulai berubah yaitu menjadi lebih lebar dua sampai tiga meter. Dulunya hanya bisa dimasuki orang satu orang saja dengan ukuran 70-90 cm (kalau berdua tidak muat), dan sekarang berempat orang bisa masuk sekalian. Jenis pintu dimaksud adalah pintu ukir yang didatangkan dari luar pulau Bali. Datangnya pintu ukir impor ini, sedikit membuat kekhawatiran para produsen pintu Bali, karena konsumen cenderung memilih pintu ukir impor. Ini terjadi karena berbagai alasan yaitu pintu ukir impor lebih murah, cara memasang lebih mudah dan tidak memerlukan ornamen yang rumit cukup minimalis, kalau mau memasukkan sesuatu ke dalam ruangan juga mudah karena lobangnya lebar. Kekawatiran para produsen lokal disiasati dengan membuat model yang sama dengan pintu ukir impor akan tetapi ukirannya tetap Bali.

Berkaca dari fenomena tersebut, tentu muncul pertanyaan ke mana lari pintu Bali yang kecil mungil itu? Apakah masih diminati atau akan ditinggalkan? Apakah maknanya sudah diimplementasikan? Semoga apa yang leluhur wariskan tidak hilang begitu saja dan jangan sampai terlalu membanggakan produk luar yang belum tentu diketahui makna filofisnya. Mari kita buka paradigama kita, dengan menanyakan diri sendiri tentang apa itu? Bagaimana caranya? dan untuk apa? Dalam memaknai segala hal yang diwariskan oleh lelulur.

Ditelisik secara cermat bahwa pintu masuk Bali mengandung makna filosofis yaitu membangun karakter umat manusia menuju kesempurnaan. Makna filosofis pintu masuk pura misalnya, dengan ukurannya yang kecil, umat didik bersabar memasuki pura satu persatu. Umat yang datang belakangan dilatih untuk menahan emosi tidak melabrak umat yang sedang berada di depannya. Umat yang membawa sesajen dilatih belajar meditasi untuk tidak mengeluh, teguh membawa sesajen agar tetap utuh dan tidak ternodai (cemer) karena merasa capek kemudian ditaruh di bawah dada ataupun di”tengteng”. Ketika akan masuk dan melewati pintu ada kusen (pembatas) pintu bagian bawah. Ini juga mendidik kita untuk tetap hati-hati. Artinya walaupun kita sudah mampu menggapai pintu kesuksesan kita harus tetap hati-hati. Tidak terlena dengan kesuksesan yang dicapai.  Walaupun berada di tangga kesuksesan jangan terlalu berianggembira. Begitu juga sebaliknya, ketika berada di tangga bawah (ketika akan menuju pintu pura) jangan terlalu bersedih hati dan merasa sangat menderita. Carilah letak keseimbangan itu dengan cara menyayangi kedua hal itu, baik senang maupun sedih, benar maupun salah.

Begitu hebatnya para leluhur menghasilkan mahakarya yang luar biasa. Mari kita belajar lebih dalam pada guru simbolik, dan juga guru-guru yang lainnya. Bali kaya guru simbolik, mari kita jaga, kita lestarikan, kita sayangi, kemudian kita belajar dariNya.

 

Iklan
Tak Berkategori

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s